Selasa, 10 Desember 2013

KISAH USAHA BERSAMA.


Sekitar bulan Mei 2013 ketemu menantu di rumah saudara di Panjalu Ciamis sama-sama bawa pickup, lalu memberi uang Rp.300.000,- :” Ini ada sekedar rejeki untuk bapa”.ucapnya. Hati ini terharu karena seumur-umur baru kali ini diberi uang oleh menantu yang katanya usahanya telah sukses.

Bercerita tentang kesuksesannya di Bandung, yang katanya sering membawa pickup untuk belanja mebel ukir di Jepara. Lalu mengajak usaha bersama diBandung, mobil bisa untuk angkut barang, bisa disewakan, sehari Rp.250.000,- dari pada ngompreng, pulangnya malam, sering kecapaian, apalagi sudah tua. Kalau di Bandung tinggal mengawasi, pambelian barang, penjualan barang, suatu saat keluar mengantar barang.” Begitu katanya, saya tidak mengiyakan hanya menjawab lain waktu bisa kita bicarakan.

Menurut ceritanya usahanya telah sukses, maka pada 9 September 2013 tepat setelah menghadiri resepsi pernikahan adik lelakinya, maka kami melanjutkan pembicaraan.
Istri saya ragu dan menolak untuk dilanjutkan tapi saya tetap melanjutkan pembicaraan yang intinya setuju kerjasama usaha di Bandung.
Karena dari kesepakatannya mobil dibawa dulu ke Bandung maka konsekwensinya segala biaya hidup orang tua dan kewajiban pembayaran listrik, ledeng, telepon dan listing ditanggung menantu, sebagai gantinya pendapatan mobil yang sehari-harinya untuk mencari nafkah, maka kunci kontak saya berikan untuk dimulainya kerjasama usaha.di Bandung. Padahal istri tetap melarang mobil dibawa ke Bandung.

Pada 11 September 2013 saya ke Bandung untuk merealisasikan kesepakatan kerja sama usaha tersebut.
Sampai di Bandung tampaknya sepi tidak ada pekerjaan yang dijanjikan, lalu dalam pikiran betulkah usahanya telah sukses, betulkah mobil di Bandung untuk sarana usaha angkut barang dan disewakan, kelihatannya suram mobilnya tidak ada, maka, dengan perasaan amat kecewa kembali ke Purwokerto dengan meminta  biaya hidup yang telah disepakati bersama lalu saya diberi uang Rp.8.500.000,- (delapanjuta limaratusribu rupiah) yang Rp.1.500.000,- (sejuta lima ratus ribu rupiah) menyusul ditransfer lewat rekening. Jadi jumlahnya Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) 

Mobil di Bandung harus segera diambil karena ada pelanggan membutuhkan maka pada tgl 25 September 2013 saya informasikan bahwa mobil akan saya ambil, lalu anak saya mengatakan kalau ambil mobil harus bawa uang Rp.10.000.000,- (sepuluhjuta rupiah), lalu saya bertanya:” hitung-hitungannya untuk biaya hidup orang tua kewajiban pembyaran listrik, ledeng dan listing seperti yang telah disepakati bersama selanjutnya bagaimana? Lalu sebagai ganti mobil sehari-harinya untuk cari nafkah untuk menutup kebetuhan saban hari,bagaimana? juga sebagai ganti yang katanya mobil perhari disewa Rp.250.000,-. Jawaban dari menantu tagihan-tagihannya ditunda dulu, sampai akhir bulan September. Sebagai orang tua percaya dan mengerti mungkin belum ada uang.

Karena katanya untuk mengambil mobil harus Rp.10.000.000,-(sepuluh juta rupiah) sedangkan mobil saat itu sangat dibutuhkan maka saya bersama sopir cadangan  ke Bandung., dengan persiapan uang sejumlah Rp.14.500.000,- dari istri saya yang dikirim melalui rekening, sambil memberikan pesan bahwa:uang ini jangan sampai berkurang sedikitpun, uang harus kembali utuh jika mobil tidak bisa kebawa pulang.” saya hanya mengiyakan.

Sesampai di Bandung saya memberikan kartu ATM kepada anak saya, supaya mengambil sendiri uang yang diminta, yang penting mobil bisa kebawa. Kartu ATM saya berikan karena percaya akan kejujuran anak saya seperti dulu sewaktu kuliah.
Setelah uang diterima, menantu saya pergi mengambil mobilnya, dari pagi sampai malam, hingga pagi lagi baru pulang tidak membawa mobil juga, dengan harap-harap cemas menunggu bersama sopir cadangan sampai sehari semalam hampir tidak tidur yang pada akhirnya menantu saya mengatakan jika mau ambil mobil harus tambah Rp.15.000.000,- lagi.
Bagai geledek disiang bolong mendengar ucapan menantu saya itu, teman saya sopir cadangan geleng-geleng kepala.
Ini ada rekayasa kebohongan, rupanya ini menantu tidak jera-jera menipu lagi, dari awal pernikahan dengan anak saya sampai sekarang sifatnya masih belum berubah, hanya membuat masalah, dengan orang lain sampai masuk rumah tahanan, dengan saudara, dengan istri, dengan mertua komplit sudah.
Oleh karena mobil memang sedang dibutuhkan, dengan perasaan amat dongkol pada akhirnya sebagai gantinya membawa mobil sewaan dari Bandung, yang nyetir sopir cadangan.
Sesampai dirumah membawa mobil sewaan istri saya marah sekali, apalagi uangnya yang Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) sudah diserahkan, padahaal sudah diingatkan uang jangan sampai berkurang sedikitpun, dan uang harus kembali jika mobil tidak dibawa pulang.

Kini giliran orang tua merasa ditipu padahal istri saya selama ini sudah tidak percaya lagi dengan menantu yang satu ini, dengan cara halus, yang katanya bekerjasamalah mobil di Bandung untuk angkut barang, untuk belanja barang bersama ke Jepara, untuk disewakan sehari Rp. 250.000,- mengawasi keluar masuk barang, atau mengantar barang daripada ngompreng capailah.” katanya.

Pada kenyataannya setelah di Bandung sangat kecewa, ada perasaan tertekan, karena nyata-nyata dibohongi, tidak ada pekerjaan disana seperti yang diomongkan, mobil digadaikan.., kebutuhan harian seharusnya dipenuhi ternyata hanya diberi uang Rp.100.000,- seminggu.
Setiap hari seharusnya bekerja agar dapat uang sebagai ganti mobil yang digadaikan ternyata tidak ada pekerjaan, padahal lagi senang-senangnya nyetir mobil untuk usaha, yang akhirnya menjadi nganggur, sungguh kecewa dan geram dengan rekayasa kerjasama usaha ini…,

Selama di Bandung hanya menunggu dapat pekerjaan, yang ternyata nganggur, sesekali menyewa mobil untuk mengantar barang ke pelanggan, malahan dimarahi gara-gara pesanannya kurang lengkap dan tidak tepat waktu.
Oh Ya Allah dosa apa saya ini, sampai mengalami permasalahan pelik seperti ini, menantu menginjak-injak, merampas hak hidup, hak mencari nafkah, akibatnya sampai sekarang masih nganggur…, padahal kebutuhan menuntut saban hari.., tega-teganya menipu mertua demi membebaskan hutang-hutangnya, dengan cara mertua dijadikan korban.

Sekali lagi aku katakan memutar balikkan fakta yang tujuannya untuk menjebloskan mertua kepenjara, agar dia terbebas dari hutang-hutangnya. Sedangkan kesepakatan yang dibicarakan pada resepsi pernikahan adiknya tgl 9 September 2013, hanya omong kosong, biaya hidup orang tua setiap harinya, tagihan kistrik, ledeng dan listing nol sama sekali tidak dibayar yang katanya tagihan-tagihan supaya ditunda dulu sampai akhir bulan September. Padahal tahu risikonya jika listing tidak bayar. Tagihan listrik, ledeng tidak dibayar. Sebagai mertua yang sudah tidak punya apa-apa mau berbuat apa terhadap manantu seperti ini, haruskah melapor ke Polisi?. Menghubungi anak sendiri saja aksesnya sulit karena hp dikuasai suaminya, sehingga putus hubungannya.

Inilah salah satu isi sms memutar balikan fakta yang ada di HP.
Dikirim:
28-Nov-2013
15:18:34
lebih baik laporan
resmi..anda yg
menggadekan..saya
saksi sdh banyak
disini ada 4 orang
saksi yg siap mem
bela saya..
Pengirim:
Muxxx
+628782504xxxx

Menantu kejam tampaknya sudah direncana sejak awal.., mobil mertua diincar untuk digadaikan. Dulu korbannya orang lain sampai masuk penjara.., modus operandinya sama pengalamannya diulang kembali…, kini yang menjadi korban mertuanya, kelakuannya masih belum berubah sejak awal pernikahan sampai sekarang masih suka menipu.
Tulisan ini bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya,
Purwokerto, 9 Desember 2013.






































Tidak ada komentar:

Posting Komentar