Sekitar bulan Mei 2013 ketemu menantu di rumah saudara di Panjalu Ciamis sama-sama bawa pickup, lalu memberi uang Rp.300.000,- :” Ini ada sekedar rejeki untuk bapa”.ucapnya. Hati ini terharu karena seumur-umur baru kali ini diberi uang oleh menantu yang katanya usahanya telah sukses.
Bercerita tentang kesuksesannya
di Bandung, yang katanya sering membawa pickup untuk belanja mebel ukir di
Jepara. Lalu mengajak usaha bersama diBandung, mobil bisa untuk angkut barang,
bisa disewakan, sehari Rp.250.000,- dari pada ngompreng, pulangnya malam,
sering kecapaian, apalagi sudah tua. Kalau di Bandung tinggal mengawasi,
pambelian barang, penjualan barang, suatu saat keluar mengantar barang.” Begitu
katanya, saya tidak mengiyakan hanya menjawab lain waktu bisa kita bicarakan.
Menurut ceritanya usahanya
telah sukses, maka pada 9 September 2013 tepat setelah menghadiri resepsi
pernikahan adik lelakinya, maka kami melanjutkan pembicaraan.
Istri saya ragu dan menolak
untuk dilanjutkan tapi saya tetap melanjutkan pembicaraan yang intinya setuju kerjasama
usaha di Bandung.
Karena dari kesepakatannya mobil dibawa dulu ke Bandung maka konsekwensinya segala biaya hidup orang tua dan kewajiban pembayaran listrik, ledeng, telepon dan listing ditanggung menantu, sebagai gantinya pendapatan mobil yang sehari-harinya untuk mencari nafkah, maka kunci kontak saya berikan untuk dimulainya kerjasama usaha.di Bandung. Padahal istri tetap melarang mobil dibawa ke Bandung.
Karena dari kesepakatannya mobil dibawa dulu ke Bandung maka konsekwensinya segala biaya hidup orang tua dan kewajiban pembayaran listrik, ledeng, telepon dan listing ditanggung menantu, sebagai gantinya pendapatan mobil yang sehari-harinya untuk mencari nafkah, maka kunci kontak saya berikan untuk dimulainya kerjasama usaha.di Bandung. Padahal istri tetap melarang mobil dibawa ke Bandung.
Pada 11 September 2013
saya ke Bandung untuk merealisasikan kesepakatan kerja sama usaha tersebut.
Sampai di Bandung
tampaknya sepi tidak ada pekerjaan yang dijanjikan, lalu dalam pikiran betulkah
usahanya telah sukses, betulkah mobil di Bandung untuk sarana usaha angkut
barang dan disewakan, kelihatannya suram mobilnya tidak ada, maka, dengan
perasaan amat kecewa kembali ke Purwokerto dengan meminta biaya hidup yang telah disepakati bersama
lalu saya diberi uang Rp.8.500.000,- (delapanjuta limaratusribu rupiah) yang Rp.1.500.000,-
(sejuta lima ratus ribu rupiah) menyusul ditransfer lewat rekening. Jadi
jumlahnya Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah)
Mobil di Bandung harus
segera diambil karena ada pelanggan membutuhkan maka pada tgl 25 September 2013
saya informasikan bahwa mobil akan saya ambil, lalu anak saya mengatakan kalau
ambil mobil harus bawa uang Rp.10.000.000,- (sepuluhjuta rupiah), lalu saya
bertanya:” hitung-hitungannya untuk biaya hidup orang tua kewajiban pembyaran
listrik, ledeng dan listing seperti yang telah disepakati bersama selanjutnya bagaimana?
Lalu sebagai ganti mobil sehari-harinya untuk cari nafkah untuk menutup
kebetuhan saban hari,bagaimana? juga sebagai ganti yang katanya mobil perhari
disewa Rp.250.000,-. Jawaban dari menantu tagihan-tagihannya ditunda dulu, sampai
akhir bulan September. Sebagai orang tua percaya dan mengerti
mungkin belum ada uang.
Karena katanya untuk
mengambil mobil harus Rp.10.000.000,-(sepuluh juta rupiah) sedangkan mobil saat
itu sangat dibutuhkan maka saya bersama sopir cadangan ke Bandung., dengan persiapan uang sejumlah
Rp.14.500.000,- dari istri saya yang dikirim melalui rekening, sambil memberikan
pesan bahwa:” uang ini jangan sampai berkurang sedikitpun, uang harus kembali utuh jika
mobil tidak bisa kebawa pulang.” saya hanya mengiyakan.
Sesampai di Bandung saya
memberikan kartu ATM kepada anak saya, supaya mengambil sendiri uang yang
diminta, yang penting mobil bisa kebawa. Kartu ATM saya berikan karena percaya
akan kejujuran anak saya seperti dulu sewaktu kuliah.
Setelah uang diterima,
menantu saya pergi mengambil mobilnya, dari pagi sampai malam, hingga pagi lagi
baru pulang tidak membawa mobil juga, dengan harap-harap cemas menunggu bersama
sopir cadangan sampai sehari semalam hampir tidak tidur yang pada akhirnya menantu
saya mengatakan jika mau ambil mobil harus tambah Rp.15.000.000,- lagi.
Bagai geledek disiang
bolong mendengar ucapan menantu saya itu, teman saya sopir cadangan
geleng-geleng kepala.
Ini ada rekayasa
kebohongan, rupanya ini menantu tidak jera-jera menipu lagi, dari awal pernikahan
dengan anak saya sampai sekarang sifatnya masih belum berubah, hanya membuat
masalah, dengan orang lain sampai masuk rumah tahanan, dengan saudara, dengan istri,
dengan mertua komplit sudah.
Oleh karena mobil memang
sedang dibutuhkan, dengan perasaan amat dongkol pada akhirnya sebagai gantinya
membawa mobil sewaan dari Bandung, yang nyetir sopir cadangan.
Sesampai dirumah membawa
mobil sewaan istri saya marah sekali, apalagi uangnya yang Rp.10.000.000,- (sepuluh
juta rupiah) sudah diserahkan, padahaal sudah diingatkan uang jangan sampai
berkurang sedikitpun, dan uang harus kembali jika mobil tidak dibawa pulang.
Kini giliran orang tua merasa ditipu padahal istri saya selama
ini sudah tidak percaya lagi dengan menantu yang satu ini, dengan cara halus,
yang katanya bekerjasamalah mobil di Bandung untuk angkut barang, untuk belanja
barang bersama ke Jepara, untuk disewakan sehari Rp. 250.000,- mengawasi keluar
masuk barang, atau mengantar barang daripada ngompreng capailah.” katanya.
Pada kenyataannya setelah di Bandung sangat kecewa, ada perasaan tertekan, karena nyata-nyata dibohongi, tidak ada pekerjaan disana seperti yang diomongkan, mobil digadaikan.., kebutuhan harian seharusnya dipenuhi ternyata hanya diberi uang Rp.100.000,- seminggu.
Setiap hari
seharusnya bekerja agar dapat uang sebagai ganti mobil yang digadaikan ternyata
tidak ada pekerjaan, padahal lagi senang-senangnya nyetir mobil untuk usaha, yang
akhirnya menjadi nganggur, sungguh kecewa dan geram dengan rekayasa kerjasama
usaha ini…,
Selama di Bandung hanya menunggu dapat pekerjaan, yang ternyata nganggur, sesekali menyewa mobil untuk mengantar barang ke pelanggan, malahan dimarahi gara-gara pesanannya kurang lengkap dan tidak tepat waktu.
Oh Ya Allah dosa apa saya ini, sampai mengalami permasalahan pelik
seperti ini, menantu menginjak-injak, merampas hak hidup, hak mencari nafkah, akibatnya
sampai sekarang masih nganggur…, padahal kebutuhan menuntut saban hari.., tega-teganya
menipu mertua demi membebaskan hutang-hutangnya, dengan cara mertua dijadikan
korban.
Sekali lagi aku katakan memutar balikkan fakta yang tujuannya untuk menjebloskan mertua kepenjara, agar dia terbebas dari hutang-hutangnya. Sedangkan kesepakatan yang dibicarakan pada resepsi pernikahan adiknya tgl 9 September 2013, hanya omong kosong, biaya hidup orang tua setiap harinya, tagihan kistrik, ledeng dan listing nol sama sekali tidak dibayar yang katanya tagihan-tagihan supaya ditunda dulu sampai akhir bulan September. Padahal tahu risikonya jika listing tidak bayar. Tagihan listrik, ledeng tidak dibayar. Sebagai mertua yang sudah tidak punya apa-apa mau berbuat apa terhadap manantu seperti ini, haruskah melapor ke Polisi?. Menghubungi anak sendiri saja aksesnya sulit karena hp dikuasai suaminya, sehingga putus hubungannya.
Inilah salah satu isi sms memutar balikan fakta yang ada di HP.
Dikirim:
28-Nov-2013
15:18:34
lebih baik laporan
resmi..anda yg
menggadekan..saya
saksi sdh banyak
disini ada 4 orang
saksi yg siap mem
bela saya..
Pengirim:
Muxxx
+628782504xxxx
Menantu kejam tampaknya sudah direncana sejak awal.., mobil mertua diincar untuk digadaikan. Dulu korbannya orang lain sampai masuk penjara.., modus operandinya sama pengalamannya diulang kembali…, kini yang menjadi korban mertuanya, kelakuannya masih belum berubah sejak awal pernikahan sampai sekarang masih suka menipu.
Tulisan ini bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya,
Purwokerto, 9 Desember 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar